Mencintai Bahasa Indonesia dengan Pencerahan Baru

Menulis Kreatif dan Ilmiah Bersama Wahyu Wibowo

Oleh Dr. Wahyu Wibowo

aku-cinta-bahasa-indonesiaUngkapan tentang berbahasa Indonesialah secara baik dan benar, memang sudah lama “menyihir” kita. Tapi, dengan itu, justru malah membuktikan bahwa kita ternyata kurang mengenal bahasa kita dengan baik dan benar, kecuali mencintainya secara membabi-buta. Artinya, kita memang butuh pencerahan-baru dalam mencintai bahasa Indonesia.

Pertama, bahasa Indonesia tidak membutuhkan undang-undang. Pasalnya, tiap bahasa dalam konteks pemakaiannya pada dasarnya memiliki aturan mainnya sendiri, mengingat nilai-nilai kehidupan yang dikandungnya.

View original post 900 more words

Advertisements

Sajak Tokoh

mungkin harapan ku tidak setinggi para pendahulu yang telah berjuang pada zaman nya

dan mungkin perbuatan malas sudah mulai usang untuk diriku…

tidak seperti sigmund frued yang ahli dalam menganalisis suatu teori, tidak seperti Ernesto Che Guevara yang berhasil mengantar tongkat revolusi rakyat cuba, tidak seperti Alexander supertramp alias Christopher John McCandles yang menggoreskan tinta sisa-sisa perjuangan hidup nya di alam liar dan juga tidak seperti PUTRA SANG FAJAR alias Soekarno sebagai pimpinan negara RI yang sekarang di kenal Indonesia.

harapan sisa-sisa perjuang mereka dalam Dunia ini terangkum dalam sebuah Sejarah Besar pada Abad 20…. entah mengapa aku ingin sekali kembali pada zaman itu dan menyaksikan cetar dan merdeka nya di iringi dengan susah payah, tumpah darah dan terakhir senyum kebahagian para pembawa perubahan.

sebagaimana suatu suara yang ada di dalam fikiran ku berkata…
“semoga di zaman mu lebih baik”

Rama P P

Menuju Harapan

11 Desember 2013

Cerita nya….

TERIMA KASIH pada para blogger yang mampir dan membaca blog saya ini saya ucapkan terima kasih sudah membantu dunia ini untuk membudayakan membaca dan menulis. Keperihatinan masyarakat akan budaya baca-tulis HAMPIR 65% menurut survei yang saya lakukan adalah KURANG, semoga tulisan saya ini akan sedikit membawa teman-teman untuk membuka kecerdasaan emosional dan spritual teman-teman sekalian.

Pada Hakekat nya manusia Berkata Sanggup ketika di dalam (kandungan ibu) dan di lahirkan kedalam dunia (tempat kita sekarang). Seiring perkembangan bumi berputar banyak ilmu yang di dapat dari masa lalu di transform ke masa depan dan menjadi sesuatu hal yang di sebut ILMU.

 Ilmu merupakan bagian dari modal dasar manusia untuk berfikir, dan dari berfikir ini lah yang menjadi manusia memiliki pemahaman atas apa yang Tuhan kehendaki dan manusia lakukan yaitu TINDAKAN. tindakan manusia sangatlah bermacam mulai dari kita bangun tidur sampai kita tertidur lagi dan menghasilkan BUDAYA. Budaya seperti apakah yang bisa kita tangkap dari proses (duniawi) aktifitas yang kita jalani sehari-hari? mari disini lah saya akan berbagi pengalaman kepada sahabat wordpress,blogger dan pembaca lain nya tentang arti Ilmu dan budaya melalui kajian SASTRA yang saya sedang teliti.

Di bagian awal ini saya akan memberikan pengertian tentang perbedaan Pola fikir dan BUDAYA menurut beberapa refrensi yang saya pelajari.

Pola fikir pada dasarnya hampir mirip dengan pola budaya,sebetulnya menurut para pemikir-pemikir terdahulu yaitu ; socrates dan plato manusia tidak akan pernah berhenti untuk berfikir dari ia mulai terlahir kebumi hingga ajal, yang perlu di garis bawahi adalah presfektif berkegiatan di dalam otak yang menghasilkan bentuk nyata (ide). Dengan adanya ide manusia selalu melakukan perubahan-perubahan dengan alam sekitar contoh nya adalah tindakan seorang anak saat ia menginginkan sebuah mainan yang menurut nya hal baru yang mereka belum temui semenjak mereka sudah bisa mengenal dengan baik situasi yang ada di sekeliling mereka, ia akan menangis mengiba kepada orang tua nya dan mainan itu akan jatuh ke tangan mereka dan mengubahan tangisan itu menjadi senyuman yang penuh dengan kebahagian pada diri sang anak, inilah beberapa TINDAKAN yang dilakukan oleh manusia berdasarkan HASRAT atau keinginannya (Nafsu).

Untuk memperjelasnya bukti bahwa dari masing-masing manusia atau individu mempunyai keinginan dan cita-cita mereka berlomba-lomba (Adaptasi) dengan lingkungan di sekitar mereka dan menjadi mereka sebagai bagian dari Masyarakat Budaya.

 Dimanapun kita berada di situlah terdapat BUDAYA

budaya merupakan hal yang paling utama dan tidak dapat terpisah dalam kehidupan, mulai dari keluarga,kerabat,lingkungan sekolah, kantor sampai masyarakat atau tempat yang belum kita pernah jelajahi akan menampakan sosok budaya-nya. apakah budaya itu negatif atau positif ? seiring pertumbuhan manusia, ilmu dan budaya tidak dapat terpisahkan dengan hal “ketergantungan”  atau acuan. acuan – acuan itu akan selalu menghantui fikiran para individu yang sedang tumbuh dalam linkungan dan kelas – kelas sosial masyarakatnya. Dengan catatan budaya memiliki pengaruh besar untuk masuk kedalam aspek ilmu,kehidupan dan akan memicu hal yang terus semakin spesifik.

Dengan sudah memahami arti dari budaya itu sendiri, Manusia akan di dekatkan dengan KELOMPOK, sifat saling mendominasi dan tidak mau kalah (Ego) yang membuat individu – individu tersebut berada dalam masalah persaingan (Seleksi Alam) dan justru hidup ini bukan persoalan menang atau kalah tetapi siapa yang pantas untuk memimpin dan dipimpin. mulai dari hal inilah manusia di dekatkan dengan hal KEPEMIMPINAN.

bersambung…

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

“sekolah yang sesungguh nya ada di luar sana”, banyak prespektif yang mengatakan salah satu nya dalam buku “Rich dad,Poor Dad” …. luar biasa…!

Catatanku

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan…

View original post 2,517 more words

Analisis Film “Babel” (2006)

Pendahuluan

1.Latar Belakang

Adanya kelas-kelas sosial pada masyarakat yang tampak pada film ini, membuat saya ingin menganalisa dominasi kelas-kelas yang terjadi pada tokoh-tokoh dalam film ini, terlihat saat “Hasan” (orang yang menjual senjata pada “Abdullah”) di interogasi oleh kepolisian maroko dan lagi masyarakat sekitar kota kecil yang miskin di maroko saat Richard merawat Susan dengan rasa panik. karena setiap kehidupan memiliki aturan-aturan baik yang tertulis maupun tidak Amelia dan Santiago adalah orang meksiko yang ternyata illegal identitas nya saat memasuki wilayah USA, ini semakin jelas bahwa perbedaan dan dominasi kelas baik itu dominasi kepemimpinan dan moral tergambar menjadi satu inti cerita yang di sajikan menjadi 4 waktu yang berbeda.
Jauh di perbukitan gurun pasir Maroko, dua bocah, Yossef (Boubker Ait El Caid) dan Ahmed (Said Tarchani), dengan bangga menenteng senjata yang baru dibelikan ayah mereka, Abdullah (Mustapha Rachidi), untuk mengawal kawanan ternak. Sebuah senjata yang tanpa mereka sadari akan melibatkan mereka dalam keruwetan.
Dengan raut polos, Yossef dan Ahmed saling unjuk kebolehan menembak senapan dan mengarahkan ke target yang mereka incar. Sampai suatu saat target tembak Yoseff dan Ahmed bukan lagi batu karang, mereka bertaruh seberapa jauh jarak jangkau peluru senjata mengenai target. Yoseff meminta Ahmed mengarahkan senapan ke sebuah bis yang sedang lewat, dan di luar dugaan mereka, bis berhenti, orang-orang mulai berteriak dan…dimulailah kisah tragis untuk sesuatu yang jauh dari bayangan mereka.
Terpisah jauh dari Yoseff dan Ahmed, di saat yang bersamaan, Amelia pengasuh anak keturunan Meksiko yang mengadu nasib di San Diego, Amerika. Saat menjaga dua bocah yang ditinggal kedua orang tuanya, Richard dan Susan pergi berlibur, Ameli menerima telepon yang memintanya segera pulang ke Meksiko untuk menghadiri pernikahan putranya esok hari. Masalah datang saat Richard mengatakan tak bisa pulang ke Amerika karena sebuah insiden di tempat mereka berlibur. Di tengah kekalutan antara pernikahan anaknya dan tugasnya menjaga anak asuhnya, dan tak kunjung menemukan penggatinya, Amelia akhirnya memutuskan nekat membawa kedua anak tersebut menuju Meksiko dengan menumpang mobil keponakannya, Santiago (Gael Garcial Bernal).
Bermil-mil jauhnya, kepanikan juga menghinggapi Richard dan Susan, yang tengah berlibur ke Moroko untuk mengembalikan hubungan mereka yang tak lagi harmonis setelah kematian anak mereka, Sam. Richard berusaha meyakinkan Susan atas perbuatannya di masa lampau yang sampai saat ini tak kunjung dimaafkan Susan. Dinginnya hubungan mereka diperparah dengan tragedi yang mengancam nyawa Susan saat sebuah peluru yang tak diketahui asalnya menembus bahu Susan.
Sementara di benua timur, Chieko (Rinko Kikuchi), seorang gadis Jepang tengah bertanding volley, dengan tatapan prihatin sang ayah, Yasujhiro (Koji Yakusho), yang hanya bisa mengelus dada dan kecewa dengan kekerasan hati putrinya. Yasujiro sangat berhati-hati menghadapi Chieko yang pemberontak dan sensitif, selain juga harus memahami ketaksempurnaan Cheiko yang bisu tuli sejak kecil dan kematian tragis ibunya. Chieko juga dihadapkan dengan masalah ‘keperawanan’ yang membuatnya moody dan merasa terkucil di antara teman-temannya.
Empat kehidupan di tiga benua, orang-orang asing yang terpisahkan jarak dan waktu, perbedaan budaya, tradisi, kelas sosial, dan pandangan hidup, namun mereka menghadapi satu hal yang membuat mereka sehati. Mereka terisolir karena ketidakmampuan berkomunikasi dengan baik satu sama lain, meski pada akhirnya ada satu titik temu yang saling menyatukan mereka.
Babel adalah 2006 internasional Film drama yang disutradarai oleh Alejandro González Inarritu dan ditulis oleh Guillermo Arriaga. Multi-narasi drama melengkapi Inarritu itu Death Trilogy.
Film ini menggambarkan beberapa cerita yang terjadi di Maroko , Jepang , dan Meksiko / Amerika Serikat Itu adalah co-produksi internasional antara perusahaan yang berbasis di Perancis, Meksiko, dan Amerika Serikat Film ini pertama kali diputar di Cannes Film Festival 2006 , dan kemudian ditampilkan di Toronto International Film Festival dan Festival Film Zagreb . Nama film itu dibuat awalnya dengan kesalahan ejaan Pavneet Dhanoa tentang nama asli Nabeel Khalid. Dibuka di kota-kota yang dipilih di Amerika Serikat pada tanggal 27 Oktober 2006, dan pergi ke dalam rilis lebar pada tanggal 10 November 2006. Pada tanggal 15 Januari 2007, ia memenangkan Golden Globe Award untuk Best Motion Picture – Drama. Itu dinominasikan untuk tujuh Academy Awards , termasuk Best Picture , Best Director , dan dua nominasi untuk Aktris Pendukung Terbaik dan memenangkan untuk Best Original Score .

2.Pokok Masalah


Karakterisasi
1. Yossef dan Ahmed saling unjuk kebolehan menembak senapan dan mengarahkan ke target yang mereka incar. Yoseff meminta Ahmed mengarahkan senapan ke sebuah bis yang sedang lewat, dan di luar dugaan mereka, bis tersebut berhenti, karena Susan istri dari Richard tertebak peluru yg di lepaskan oleh Ahmed.
Cara berkomunikasi
2. Adanya perbedaan bahasa dan kesulitan berkomunikasi, pada inti nya dari 3 setting berbeda ini masalah terbesar ialah tentang cara berkomunikasi, betapa penting SASTRA kehidupan mempengaruhi kehidupan mereka yg bertemu dengan orang-orang yg baru mereka temui.
Setting
3. Terjadinya asal muasal konflik penembakan, konflik politik dan kehidupan keluarga di asia tidak terlepas dari “Setting”

Unsur Intrinsik
– Karakterisasi
Beberapa sumber mengatakan Gill dalam bukunya yang berjudul, “Mastering English Literature”, tentang definisi karakter menurutnya ;
A character is someone in a literary work who has some sort of identify (it needn’t be a strong one), an identity which is made up by appearance, conversation, action, name and (possibly) thoughts going on in the head. (Gill, 1995: 127)

Di dalam sebuah cerita karakter dapat di bedakan menjadi 2 bagian yaitu karakter “Mayor” dan Karakter “Minor”

– Karakter Mayor

Menurut Robert DiYanni dalam bukunya yang berjudul “Fiction An Introduction” menjelaskan bahwa mayor karakter di bagi menjadi 2 karakter utama dan subordinate karakter . Mayor karakter sangat penting karena sebagai central utama dari cerita atau kisah dalam karya sastra tersebut.

main character which is called a protagonist the conflict with the opposite which is called antagonist; two characters always create conflict. It is described in ‘The major character is sometimes called a protagonist whose conflict with an antagonist may spark the story’s conflict”. (Di Yanni, 2000: 35)


– Karakter minor

Minor character is the character whose existence is not significant and central but it is needed to support the major character. DiYanni further says that minor character is available for supporting the major character. The minor characters are static or unchanging; they only remain the same role from the beginning until the end of the story. He says in his book, “Fiction; An Introduction”, “Minor character whose function is partly to illuminate the major characters” (DiYanni 2000: 35).

Dapat disimpulkan bahwa setiap cerita atau karya sastra tidak dapat di bangun tanpa kedua karakterisasi ini.

– Setting
Yang paling banyak di bahas dalam studi sastra adalah latar (setting), lingkungan (environment) dalam film yang saya analisis ini setting nya ada di 3 benua yaitu Amerika,Asia dan Afrika.

Sebagaimana saya mengutip pernyataan dari William Kenney, dalam buku berjudul, “How to Analyze Fiction” yang menjelaskan :

Setting includes geographic location, topography, and scenery. In addition to those, the other factors, ranging from landscape, equipment of a room, historical period, season, intellectual action, and social interaction of life, to emotional feeling the place in which the characters take part in various events, also necessarily count. (Kenney, 1996:40)

Sosial setting sangat mendukung untuk informasi atau kunci jalan nya sebuah cerita yang di bangun setelah di tegaskan oleh fungsi karakter-karakter di dalam nya.

Unsur Ekstrinsik

– Pendekatan Sosiologi

Menurut Renne Wellek dan Warren:
Literature is a social institution, using as its medium language, a social creation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ’life’; and ‘life’ is, in large measure a society reality, eventhough the natural world and the inner or subjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poets himself is a member of society, possessed of a specific social status; he receives some degree of social recognition and reward; he addresses an audiences, however hypothetical. (Wellek and Warren 1956:94)

Pendekatan sesungguh nya terpusat pada karya sastra itu sendiri dan masyrakat yang di dalam benak si penulis atau pengarangnya.

– Hegemony
Hegemoni adalah Suatu Kelompok social mendominasi kelompok-kelompok. Antagonist lah yang cenderung ia hancurkan atau bahkan ia taklukan dengan kekuatan pasukan/kelas social yg mendominasi bahkan dengan contohnya : kekuatan tentara.

Pengertian Hegemoni
merupakan gagasan Antonio Gramsci (1891-1937) yang bersumber dari buku Selection from Prison Notebooks. Buku ini adalah catatan Gramsci selama dipenjara antara tahun 1929-1935. Teori hegemoni Antonio Gramsci menganalisa berbagai relasi kekuasaan dan penindasan di masyarakat. Lewat perspektif hegemoni, akan terlihat bahwa penulisan, kajian suatu masyarakat, dan media massa merupakan alat kontrol kesadaran yang dapat digunakan kelompok penguasa.
Hegemoni berasal bahasa Yunani, egemonia yang berarti penguasa atau pemimpin. Secara ringkas, pengertian hegemoni adalah bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus. Artinya, kelompok-kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologis penguasa.

Antonio Gramsci membangun suatu teori yang menekankan bagaimana penerimaan kelompok yang didominasi terhadap kehadiran kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa tindakan kekerasan. Media dapat menjadi sarana di mana satu kelompok mengukuhkan posisinya dan merendahkan kelompok lain. Proses bagaimana wacana mengenai gambaran masyarakat bawah bisa buruk di media berlangsung dalam suatu proses yang kompleks. Proses marjinalisasi wacana itu berlangsung secara wajar, apa adanya, dan dikhayati bersama. Khalayak tidak merasa dibodohi atau dimanipulasi oleh media. Konsep hegemoni menolong kita menjelaskan bagaimana proses ini berlangsung.
Hegemoni menekankan pada bentuk ekspresi, cara penerapan, mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui para korbannya, sehingga upaya itu berhasil dan mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka. Melalui hegemoni, ideology kelompok dominan dapat disebarkan, nilai dan kepercayaan dapat dipertukarkan. Akan tetapi, berbeda dengan manipulasi atau indoktrinasi, hegemoni justru terlihat wajar, orang menerima sebagai kewajaran dan sukarela.
Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan, yang dianggap benar, sementara wacana lain dianggap salah. Media di sini dianggap secara tidak sengaja dapat menjadi alat bagaimana nilai-nilai atau wacana yang dipandang dominan itu disebarkan dan meresap dalam benak khalayak sehingga menjadi konsesus bersama. Sementara nilai atau wacana lain dipandang sebagai menyimpang. Misalnya, pemberitaan mengenai demonstrasi buruh, wacana yang dikembangkan seringkali perlunya pihak buruh musyawarah dan kerja sama dengan pihak perusahaan. Dominasi wacana semacam ini menyebabkan kalau buruh melakukan demonstrasi selalu dipandang tidak benar.
Di sini menggambarkan bagaimana proses hegemoni bekerja. Ia berjalan melalui suatu proses atau cara kerja yang tampak wajar. Dalam produksi berita, proses situ terjadi melalui cara yang halus, sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran, memang begitulah adanya, logis dan bernalar (common sense) dan semua orang menganggap itu sebagai suatu yang tidak perlu dipertanyakan.
Teori hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan untuk memperebutkan penerimaan publik. Karena pengalaman sosial kelompok subordinat (apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya) berbeda dengan ideologi kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi dan kebenarannya tersebut agar diterima, tanpa perlawanan. Salah satu kunci strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam.

Kesimpulan

Bahwa melalui pembuktiaan karakterisasi, setting, pendekatan sosiologi yaitu

Hegemoni yang tidak cukup efektif dan tidak berhasil melumpuhkan kepatuhan seluruh masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat sebenarnya melihat banyak ketimpangan dan dalam diri mereka terdapat danyak ketidaksetujuan dan ketidaksepakatan namun tidak disertai dengan tindakan atau pemberontakan yang kongkret (passive resistance) atau lebih tepatnya di katakana dengan “Hegemoni Yang Merosot”

Agar Hati Menjadi Lembut

Hadis riwayat Aisyah ra. isteri Nabi saw.:Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya”.

 

Kita tidak lalai akan doa yang satu ini : “Ya Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah diriku dalam Agama-Mu dan dalam Ketaatan kepada-Mu”.

Begitulah, menjaga hati untuk sentiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutin kita yang memerah tenaga dan fikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati. Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat pelbagai persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.

 

Untuk itu, beberapa nasihat berikut patut kita renungi bersama dalam usaha kita untuk melembutkan hati. Kita hendaklah senantiasa:

 

1. Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.

2. Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya.

3. Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaitan.

4. Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.

5. Takut akan balasan seksa yang segera di dunia, kerana maksiat yang kita lakukan.

6. Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.

7. Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.

8. Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.

9. Takut akan azab di alam kubur.

10. Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.

11. Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut dan lebih tajam dari pedang.

12. Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.

13. Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.

14. Takut terhadap nikmat Allah yang kita rasa siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.

15. Takut tidak diterima amalan-amalan kita.

16. Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.

17. Kekhuatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada hari timbangan ditegakkan.

18. Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga dan harta kepada Allah SWT. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki urusan ini kecuali pada Allah.

19. Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, kerana terkadang riya’ itu memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan ucapan orang soleh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.

20. Jika kita ingin sampai pada darjat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.

21. Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.

22. Ketahuilah bahwa amal soleh dengan keistiqomahan jauh lebih disukai Allah daripada amal soleh yang banyak tetapi tidak istiqomah dengan tetap melakukan dosa.

23. Ingatlah setiap kali kita sakit bahawa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.

24. Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sihat.

25. Setiap kali kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka bayangkanlah jika kita yang sedang diusung.

26. Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan mengatakan bahwa kita pasti mati padahal tidak pernah ingat akan mati.

27. Lihatlah dunia dengan pandangan iktibar (pelajaran) bukan dengan pandangan mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.

28. Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cubaan dunia. Lantas apakah kita sanggup menghadapi panasnya jahannam?

29. Di antara akhlak wanita mukminah adalah menasihati sesama mukminah.

30. Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakan kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal soleh maka dia jauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baik sedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”

 

“Allah Maha Lembut kepada hamba-hambaNya, Dia memberi rezeki kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” As-Syura:19

 

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurnia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” Al-Maidah:54

 

Daftar pustaka :

https://newstoday.id/pesan-kasih-sayang-untuk-para-sahabat-ku/

 

Tak Hanya Kartini : Siti Aisyah We Tenri Olle, Penyelamat Sastra Warisan Dunia “I La Galigo”

Biar sejarah yang bicara ......

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih hatur tangkyu buat Mba Widi Astuti yang telah bersedia mengirimkan tulisannya yang katanya Insya Allah sebentar lagi akan terbit dalam bentuk buku tentang Tokoh Pergerakan Perempuan Islam Indonesia. Kedua, jelang peringatan hari Kartini 21 April, lewat tulisan “Tak Hanya Kartini” banyak hal yang perlu perenungan ulang terhadap simbol perjuangan perempuan yang sematkan pada R.A. Kartini. Dalam tinjauan historis “Tak Hanya Kartini” berarti sebelum Kartini banyak perempuan-perempuan Indonesia yang punya peran penting dalam pergerakan dan perjuangan melawan penjajahan Belanda. “Tak Hanya Kartini” berarti pula masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang perannya melebihi peran Kartini. “Tak Hanya Kartini” dalam pandangan kekinian berarti pula perempuan-perempuan Indonesia di masa kinipun musti bisa berkarya dan berjuang untuk sebuah keyakinan dan cita-cita yang luhur dan mulia. Dan terakhir… “Selamat Hari Perempuan Indonesia

Selanjutnya masih melanjutkan kiriman tulisan dari Mba Widi Astuti tentang tokoh pergerakan perempuan Islam di…

View original post 1,351 more words

Kuda untuk Bidadari

Janji yang di pertentangkan kini mulai tampak…

Mengapa kau sangat keras kepala…

mengapa harus berjalan ke ujung rerumputan yang jauh itu dan jatuh kebawah…

banyak hal yang harus di dengar

banyak hal yang harus di dengar

banyak hal yang harus di dengar

tidurlah bidadari yang suka berkuda itu….

KILAU

Mengingat masa muda mu yang berlanjut menjadi klasik adalah sesuatu dari mu…

matahari,air,dedaunan dan salju yang kau rasakan kini berubah menjadi glester dari utara sana…

menyilaulah banyak yang tak bisa berjalan karena glester itu…

menyilaulah..

menyilaulah..

menyilaulah…

Ku buktikan bukanlah goresan cengeng

Image

Ku buktikan bukanlah goresan cengeng

kutemukan indah  bulan yang ku tonton subuh tadi,ingin mengajak seseorang bermain dengan beberapa ketukan  se-perempat nada pada kayu bolong… bebas itulah yang terlintas

menjawab keraguan dan terus meragukan bila tak akan di lepaskan…

sungguh tinggi langit pada hari ini…

dan ia masih menyimpan kesedihan sampai hari ini…

terus dan masih menangis sampai saat ini kulihat,kurasakan…

lekas sembuh aku ingin melihat gila kilau-mu yang seperti lalu…

dan ku ingin banyak menggoreskan pahatan-pahatan yang akan ku kenang… dan hilang…

Atap, 27 Januari 2013